Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

Hidup yang Lebih Hidup


Hidup itu…bicara tentang pilihan. Adakalanya kita merasa pilihan yang kita ambil adalah yang paling tepat. Tak jarang, kita menyesali pilihan yang telah dengan masak kita pertimbangkan.
Nyatanya, tetap saja hidup tak akak lepas dari pilihan dan pilihan lagi. Ke mana saja kita melangkah, kita akan dihadapi sebuah pertanyaan yang memungkinkan kita untuk menjawab satu dari sekian banyak.
Karenanya, sebelum memilih, berfikirlah. Jangan berfikir sekadar berfikir. Berfikir di sini haruslah berfikir yang benar dan produktif. Jika kita berfikir tapi dengan asumsi-asumsi yang salah, ya sama saja… Pilihan yang kita ambil justru akan membuat kita termenung menyesal di kemudian hari.
Berbeda, jika kita berfikir dengan pola yang benar. Berdasarkan fakta yang valid. Datanya akurat. Informasinya pasti benar. Kemudian kita sambungkan antara fakta yang kita indra dengan informasi-informasi yang benar pula. Insya Allah kesimpulan yang akan kita dapat, benar pula adanya…
Berfikir juga haruslah produktif. Menghasilkan. Janganlah berfikir untuk melakukan sesuatu tanpa berfikir upaya atau langkah2 praktis yang harus ditempuh untuk mewujudkan sesuatu tersebut. Nonsense itu… Jika hanya pandai mengonsep, tapi tak pandai menyusun strategi untuk bertindak.
Jadi, berfikirlah. Bertindaklah. Pilihlah pilihanmu, dan jangan sesali. Sesungguhnya, jika kita renungi pilihan kita dengan argumentasi yang tepat sebelum memilih, insya Allah kita tak akan salah pilih.
Yakin, hayati, dan resapi pilihan yang telah kita tarik. Selanjutnya, nikmati segala sesuatunya. Ada hikmah di baliknya. Ada kebaikan di belakangnya. Jika kita mau terbuka pada hal itu.
Crafty Rini Putri.

Jangan Sombong! #YukMoveOn


Orang yang sombong, mungkin banyak temannya. Lantaran dia suka menunjukkan kemampuan dirinya. Tapi jangan salah...
Membanggakan diri sendiri, itu namanya UJUB.
Memamerkan keahlian sendiri, itu namanya RIYA.
Menceritakannya, itu namany SUM'AH.
Menggagungkan diri sampai lupa Allah, itu namanya TAKABBUR.
Kalau Sombong?
SOMBONG adalah... sikap tidak mau atau sulit menerima kebenaran dan meremehkan orang lain.
Nah, ini semua se anak turunan.
Why?
Karena Orang yang sulit menerima kebenaran, biasanya sulit dinasehati... Ngerasa bener terus... atau Ngerasa nggak rela jika disalahkan.
Ujung-ujungnya dia akan mudah sekali meremehkan orang lain.. Terutama jika orang tersebut nggak sependapat dengannya. Juga jika orang tersebut mengkritik dirinya.
Orang yang kaya gini, dia berfikir bahwa dirinya punya sesuatu yang Huebat. yang sehingganya nggak semua orang bisa dengan mudah menasehati dia. Inilah yang dinamakan Ujub...
Lantas, ketika dia selalu merasa bisa.. selalu merasa orang besar.. selalu merasa sebagai orang yang harus dihormati....
Saat itulah, ia mulai memamerkan kemampuannya kepada orang lain. Bisa dengan cara menunjuk dirinya sendiri atas jabatan, amanah, atau kesempatan emas tertentu.. Ini Riya..
Kalau sudah begini, biasanya ia juga akan mulai belajar untuk menceritakan pada orang lain tentang keutamaan-keutamaan dirinya (dibanding orang lain). Menceritakan bahwa dirinya bisa itu.. itu juga bisa.. nah yang itu jago.. itu apalagi.. begitu seterusnya. Di situlah ia menjadi Sum'ah.
Terakhir....
Saat ia sudah sampai di titik ini, sulit baginya untuk tidak Takabbur. Bahkan kadang, dia ngga merasa butuh Allah! Karena tanpaNya.. ia bisa melakukan sesuatu dengan beres... lancar, dan menyenangkan.
Dear...
Kadang, tanpa disadari ya.
Kita masuk dalam golongan orang sombong. Kita jadi bebal jika dikritik sama orang lain. Padahal? Apa salahnya mendengar masukan orang? Melukai hati kita? Come on.... Perasaan itu hanya hadir sebentar doang. Yang untung kita.
Orang lain; entah itu ortu, sahabat, pasangan hidup, atau bahkan guru kita, ketika mereka mengkritik kita, mereka Nggak Dapet Apa-apa!
Malah kadang mereka yang harus punya perasaan dongkol dulu... Gemes dulu... Kesel dulu... Marah dulu... atau bahkan benci dan dendam...
Itu semua perasaan-perasaan nggak enak yang udah mereka korbanin demi menasehati kita...
Sebagai orang yang dikritik, sudah sepantasnyalah kita Legowo...
Nggak perlu berfikir bahwa orang lain nggak mengerti kita. Orang lain bisanya nyari kesalahan kita.. Orang lain bisanya mengkritik, ngelakuin sendiri belum tentu bisa.
Hmm...
Dear,, apa kamu nggak merasa sakit dengan perasaan seperti itu??
Ayolah...
‪#‎MoveOn‬.
Dan tentu, jika kita menjadi orang yang gampang nerima kritik dari orang, bahkan berterimakasih.
Kita akan belajar untuk meminimalisir ke-UJUB-an diri. Karna kita telah bertransformasi menjadi orang yang senang belajar...
Orang yang suka belajar dan selalu bertumbuh, adalah orang yang senang mendengarkan orang lain. Baik itu pendapat yang sepakat, atau yang bertentangan.
Dengan begitu, ia akan berfikir bahwa dia punya kemampuan, tapi orang lain juga punya. Dia bisa mengerjakan sesuatu dalam bidang tertentu yang mungkin orang lain nggak bisa, tapi ada bidang lainnya yang dia sama sekali nggak ahli.
and next, dia pantang memamerkan keahliannya. Apalagi menceritakannya pada orang. Dia malu. smile emoticon
Makanya, dia nggak akan mungkin berani jadi orang yang takabbur. grin emoticon
So Dear....
Sahabatku yang sangat kucintai....
I Love You So So Much.
‪#‎YukBertumbuhBersama‬
heart emoticon
Yours,
Crafty Rp.

Menebar Benih Keikhlasan dalam Bilik Hati


Kita bisa jujur pada hati sendiri, namun seringkali justru membohongi.
Setiap ada pilihan berbuat baik, pilihan buruk sentiasa menggoda.
Tak lama berfikir, terburu-buru, akhirnya yang keluar adalah keputusan mentah.
Berlagak seperti mampu padahal jiwanya rapuh.
Bersikap seolah cerdas padahal raganya tertindas.
Menepis ruang yang biasa bicara apa adanya, tak dikurang-tambahi.
Mencoba tenang dalam airmata yang menggenang.
Namun, tetap saja hati gundah.
Merenungi sebuah matriks hidup yang kian meredup.
Lupa, dengan ketulusan, keikhlasan, kesabaran.
Karna dinding yang tak tertanding.
Menjadikan lumpuh, layu.
Hilang peka. Hanya meraba-raba.
Akhirnya, selalu persepsi yang dibuat-buat sendiri.
Yang menghadirkan fakta mengada-ada.
Lalu sibuk membenarkan diri.
Menyalahkan yang lain.
Meremehkan setiap orang.
Walau gayanya seperti orang yang tak pernah khilaf.
Dan bangga.
Memaksa diri sendiri untuk selalu tampak bak permaisuri.
Yang menjadi pelayan umat tapi selalu ingin dilayani.
Yang menjadi pengayom umat tapi selalu ingin orang memahaminya.
Tak ingin adil dalam bersikap, hanya kepentingan sendiri yang diharap.
Pekerjaannya mengomentari orang, orang, dan orang.
Tak ingat dirinya punya cermin untuk memukul si empunya.
Namun lebih suka berfokus pada kekurangan siapapun di depannya.
Tak kepikiran bahwa suatu saat ia bisa menjadi apa yang ia katakan pada orang.
Saat kekurangan orang akhirnya menimpanya jua.
Dan ia tak kuasa.
Jika kini hanya mengiri pada yang ikhlas berbagi.
Namun tak sepeserpun uang terbayar.
Sedekah hanya nanti, nanti, dan nanti.
Menolong orang pun sedikit terpikir namun enggan.
Pantas saja hatinya gusar. Pikiran sering buyar.
Kalau sudah begitu, apakah masih pantas menyebut diri seorang pejuang?
Marilah kita sebut pejuang hidup yang tidak berjuang.

ShoutMix chat widget