Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan

Jangan Sombong! #YukMoveOn


Orang yang sombong, mungkin banyak temannya. Lantaran dia suka menunjukkan kemampuan dirinya. Tapi jangan salah...
Membanggakan diri sendiri, itu namanya UJUB.
Memamerkan keahlian sendiri, itu namanya RIYA.
Menceritakannya, itu namany SUM'AH.
Menggagungkan diri sampai lupa Allah, itu namanya TAKABBUR.
Kalau Sombong?
SOMBONG adalah... sikap tidak mau atau sulit menerima kebenaran dan meremehkan orang lain.
Nah, ini semua se anak turunan.
Why?
Karena Orang yang sulit menerima kebenaran, biasanya sulit dinasehati... Ngerasa bener terus... atau Ngerasa nggak rela jika disalahkan.
Ujung-ujungnya dia akan mudah sekali meremehkan orang lain.. Terutama jika orang tersebut nggak sependapat dengannya. Juga jika orang tersebut mengkritik dirinya.
Orang yang kaya gini, dia berfikir bahwa dirinya punya sesuatu yang Huebat. yang sehingganya nggak semua orang bisa dengan mudah menasehati dia. Inilah yang dinamakan Ujub...
Lantas, ketika dia selalu merasa bisa.. selalu merasa orang besar.. selalu merasa sebagai orang yang harus dihormati....
Saat itulah, ia mulai memamerkan kemampuannya kepada orang lain. Bisa dengan cara menunjuk dirinya sendiri atas jabatan, amanah, atau kesempatan emas tertentu.. Ini Riya..
Kalau sudah begini, biasanya ia juga akan mulai belajar untuk menceritakan pada orang lain tentang keutamaan-keutamaan dirinya (dibanding orang lain). Menceritakan bahwa dirinya bisa itu.. itu juga bisa.. nah yang itu jago.. itu apalagi.. begitu seterusnya. Di situlah ia menjadi Sum'ah.
Terakhir....
Saat ia sudah sampai di titik ini, sulit baginya untuk tidak Takabbur. Bahkan kadang, dia ngga merasa butuh Allah! Karena tanpaNya.. ia bisa melakukan sesuatu dengan beres... lancar, dan menyenangkan.
Dear...
Kadang, tanpa disadari ya.
Kita masuk dalam golongan orang sombong. Kita jadi bebal jika dikritik sama orang lain. Padahal? Apa salahnya mendengar masukan orang? Melukai hati kita? Come on.... Perasaan itu hanya hadir sebentar doang. Yang untung kita.
Orang lain; entah itu ortu, sahabat, pasangan hidup, atau bahkan guru kita, ketika mereka mengkritik kita, mereka Nggak Dapet Apa-apa!
Malah kadang mereka yang harus punya perasaan dongkol dulu... Gemes dulu... Kesel dulu... Marah dulu... atau bahkan benci dan dendam...
Itu semua perasaan-perasaan nggak enak yang udah mereka korbanin demi menasehati kita...
Sebagai orang yang dikritik, sudah sepantasnyalah kita Legowo...
Nggak perlu berfikir bahwa orang lain nggak mengerti kita. Orang lain bisanya nyari kesalahan kita.. Orang lain bisanya mengkritik, ngelakuin sendiri belum tentu bisa.
Hmm...
Dear,, apa kamu nggak merasa sakit dengan perasaan seperti itu??
Ayolah...
‪#‎MoveOn‬.
Dan tentu, jika kita menjadi orang yang gampang nerima kritik dari orang, bahkan berterimakasih.
Kita akan belajar untuk meminimalisir ke-UJUB-an diri. Karna kita telah bertransformasi menjadi orang yang senang belajar...
Orang yang suka belajar dan selalu bertumbuh, adalah orang yang senang mendengarkan orang lain. Baik itu pendapat yang sepakat, atau yang bertentangan.
Dengan begitu, ia akan berfikir bahwa dia punya kemampuan, tapi orang lain juga punya. Dia bisa mengerjakan sesuatu dalam bidang tertentu yang mungkin orang lain nggak bisa, tapi ada bidang lainnya yang dia sama sekali nggak ahli.
and next, dia pantang memamerkan keahliannya. Apalagi menceritakannya pada orang. Dia malu. smile emoticon
Makanya, dia nggak akan mungkin berani jadi orang yang takabbur. grin emoticon
So Dear....
Sahabatku yang sangat kucintai....
I Love You So So Much.
‪#‎YukBertumbuhBersama‬
heart emoticon
Yours,
Crafty Rp.

Percikan untuk Hati yang Tegar



Hati ini, mata ini, tangan ini, kaki ini
Janganlah engkau jadikan keras, hingga sulit memahami kebenaran.
Kadang niat baik, kau hentakkan dengan curiga
Awalnya manis, lalu beku.
Tak ada lagi itu kesejukan. tak ada lagi keramahan. tak ada kelembutan.
Samar!

Inginmu, inginku, ingin kita;
Menjemput mega di ufuk senja
Bariskan kepuitisan. atau kemunafikkan?
Tampaknya indah. padahal bangkai.

Kau menyeru dengan lantang.
Katamu itu idealisme
Namun saat kucoba berbagi rasa dan fikir, dalam sudut pandang yang lain,
Kau bilang aku picik. dan tersesat?
Lalu kau merasa benar. selalu benar.
Entah di mana itu kebenaran.

Batu tak lunak oleh batu.
Aku pun menjadi air, membersihkan, memulihkan.
Tapi kau buang aku ke comberan!
Aku beradu dengan limbah-limbah, sampah-sampah.

Setitik mentari adalah nafas bagiku.
Sayang, mentari justru temaram, lalu melarikan diri.

Sepertinya pekat makin gelap! Tapi masih berharap!
Ia ingin mengalilr… terus mengalir…
Ke muara yang tak lagi keruh
Kebeningan yang hangat
Memercik kembali energi, yang sempat hilang dimakan arus.

Hingga ayat terdengar syahdu,
Yaa… ayyatuhan nafsul muthmainnah..
Irj’I ilaa Rabbiki radhiyatan mardhiyah.
Fadkhuli fii ibadii… wadkhuli jannati…

Malam Pertama di Baitul Ilmi, Rumah Asrama MHTI Chapter UNJ



“Hari ini harus menginap di Jakarta..” desisku dalam hati

Crowded dengan banyak urusan, ditambah lagi tubuh perlu segera diistirahatkan. Apalagi kubawa ‘Aisyahku, si kecil manis yang baru satu setengah tahun usianya. Aku termenung, berfikir dan terus berfikir. A..ha!

“Mba, hari ini..bolehkah bermalam di baitul ilmi?”

Begitu bunyi smsku pada salah seorang teman, yang tinggal di Baitul Ilmi, Asrama Mahasiswi-nya MHTI Chapter UNJ.

“Boleh.. Ditunggu ya, :)” jawabnya singkat melalui pesan singkat elektronik, melegakan hatiku.


***


Semilir udara membawaku ke sebuah komplek penduduk yang dekat dengan kampus UNJ. Komplek padat yang diisi oleh banyak penjual makanan dan minuman. Ini kompleknya Mahasiswa UNJ, gudangnya kos-kosan..

Setibanya aku di gerbang rumah tingkat pink, aku mengetuk dan mengucap salam. Ramai orang menjawab salamku dan mempersilahkanku masuk. Rupanya mereka sedang meeting asrama, jadi semuanya kumpul di aula asrama.Salah seorang di antaranya langsung menawarkanku,

“Kak, yuk tidur di kamarku aja. Kakak istirahat aja dulu dengan ‘Aisyah. Ayo Kak kuantar...” aku mengangguk, senyum.

Adik manis itu mempersilahkan aku masuk ke kamarnya, cepat-cepat ia bawakan kasur khusus untuk kami. Setelah duduk di kasur, ia bawakan segelas air putih besar. Masya Allah..

“Wah syukran ya Dek... Tau aja nih!” ia senyum-senyum sumringah

“Sip.. Oke Kak. Kakak istirahat dulu. Kalau ada apa-apa bilang ya Kak.. Aku lanjutin rapat di aula..” ujarnya bersemangat, dan ramah. Ia balik arah ke aula yang tak jauh dari kamarnya. Tak lama, ia datang lagi,

“Kak, udah makan belum? Yuk Kak makan dulu, aku punya rendang telur,” kali ini senyumnya hangat bersahabat

“Udah Dek. Makasih banyak nih..” ucapku sambil tersenyum dan dijawab lagi dengan senyumnya


***


Malam semakin lama semakin larut. ‘Aisyahku semangat bermainnya belum juga surut. Adik manis tadi bersama adik lain di sana mengajaknya bermain, sampai capek, dan terkantuk-kantuk. Mereka menemaniku dengan ‘Aisyah, sambil mengobrol tentang potensi dan passion seseorang pada bidang tertentu. Aku sharing pengetahuan yang kudapat di kuliah BK. Asik sekali obrolan kami, hingga akhirnya ‘Aisyah mulai rewel mengantuk.

Langsung kukeloni putri kecilku ini, dan tak perlu waktu lama, ia tertidur pulas. Adik-adik yang lain ikut mengantuk dan tidur di kamarnya masing-masing.


***


“Kak, sudah sholat belum?” tanya adik manis di kamar mungil ini, sekitar waktu fajar.

“Oh iya Dek..” kulangkahkan kakiku untuk berwudhu dan sholat. Di aula, ia telah menyiapkan sajadah dan mukenanya untuk kupakai. Luar biasa adik ini.

Seusai sholat, ia bertanya lagi tentang sarapan pagi. Ia mengajak ‘Aisyahku dan bersama adik-adik lainnya keluar rumah untuk membeli nasi uduk.

Kugunakan pagi itu untuk membereskan kamar dan mengobrol dengan Mba Asrama di sana. Asyik sekali kami mengobrol, tentang dakwah, dan lainnya, sampai ‘Aisyah datang. Saat aku mau membayar nasi uduk, adik manis itu menolak. Ia beralasan bahwa itu termasuk suguhan kepadaku, dalam rangka memuliakan tamu. Luar biasa.


***


Pagi yang indah. Diwarnai persaudaraan yang indah. Cinta yang indah. Kasih sayang yang indah. Sungguh indahnya ukhuwah Islamiyah...

Aku belajar tentang ketulusan. Tentang persaudaraan.

Sesuatu yang dapat menumbuhkembangkan cinta. Yang hanya mekar bersemi bak bunga-bunga di taman dakwah.

Malam pertama di Baitul Ilmi. Kesan yang sangat indah dan terkenang di sanubari.

Berlinang Air Mataku Saat Sesuap Nasi Bungkus Itu Ia Makan dengan Lahapnya



Setiap kehidupan manusia, tak pernah lepas dari beragam ujian, ringan hingga teramat berat. Ujian demi ujian yang melengkapi hidup itu bukanlah sesuatu yang tak terencana. Walau tak mampu manusia memprediksinya, tapi Allah Yang Maha Kuasa telah menyusunnya.

Karenanya ketika ada yang tak suka bahkan benci dengan cobaan, sejatinya bukan karna cobaan itu yang buruk, tapi karena sikap orang yang menghadapinya. Maha benar Allah yang telah berfirman,


"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu amat baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah : 216)


Baru-baru ini, Jakarta dikepung oleh banjir. Siapa yang suka banjir? Air menggenang seperti kolam, hingga bisa leluasa berenang? Tentu bukan itu yang terfikir oleh orang-orang yang menghadapi cobaan banjir. Melainkan, mereka akan berfikir, setelah ini bagaimana dan bagaimana? Apakah banjir akan datang lagi esok hari? Apakah lebih besar? Kapan ini berakhir?

Bagi sebagian warga Jakarta yang terbiasa mendapat 'kiriman' banjir dan tidak terlalu parah apalagi orang 'berduit', mereka bersikap biasa-biasa saja. Bahkan terkesan acuh tak acuh. Namun mereka yang rumahnya terendam banjir, lantas menganga ketika sebagian besar barang-barang di rumahnya yang tidak seberapa itu lenyap dimakan banjir, tentu akan terasa teramat sesak.

Maka bersyukurlah Anda. Bersyukurlah kita. Masih bisa makan, mandi, mencuci, dan bahkan masih bisa mengaji bekerja dengan nyaman. Bersyukurlah...

Karena ada di suatu daerah, yang tempatnya terletak di pedalaman Jatinegara. Bagian dalam, di sebuah daerah bernama tanah rendah. Ketika memasuki area itu, kita akan menemukan mata-mata yang tak tidur karna was-was, yang menahan lapar hingga melamun, yang ketika bantuan makanan datang dari sebuah posko, mereka langsung menyerbunya, dan berkata, "Alhamdulillah.. yes, ayam!"

Mungkin di antara kita biasa makan ayam, tapi mereka? makan nasi pun, pasti sudah bersyukur...
Lantas di sudut-sudut rumah kita akan melihat, mereka yang berjejer duduk langsung menyantap makanan yang diambilnya dari posko, dengan tangan yang tak tahu sudah dicuci atau belum, dengan wajah yang sangat berbinar.

Pernahkah kita membayangkannya???

Manisnya Hidup; Kita yang Tentukan




“Satu perahu berlayar ke timur, lainnya ke barat. Padahal digerakkan oleh angin yang sama. Bukan arah angin yang menentukan ke mana arah perahu, tapi bentangan lebar layarlah yang membawa kita. Seperti angin laut itulah alur kehidupan. Saat kita mengarungi kehidupan, bentangan jiwalah yang menentukan tujuannya, dan bukan ketenangan, atau hirup pikuknya lingkungan kita.” (Ello Wheeler Wilcox)

Yang menentukan bagaimana hidup kita adalah seberapa kuat niat kita untuk bertindak sekarang juga atas apa yang menimpa kita.
Sebagian besar orang menunda-nunda dalam menentukan sikap, berusaha untuk menghindar dari sebuah pilihan, namun sejatinya mereka pun sedang memilih, yakni memilih untuk menghindari kehidupan.

Marilah kita ingat ayat 11 pada surah Ar-Ra’du dalam Al-Qur’anul Kariim.
”Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sebelum kaum tersebut mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”

Apa yang kita pilih untuk kehidupan ini? Bagaimana kehidupan kita sekarang? Bahagiakah? Atau dalam ketersiksaan? Semuanya bisa kita pilih. Karna hidup hanya masalah memilih. Kita bisa menjalani hidup dengan nikmat atau diperbudak oleh kehidupan, semua ada dalam kendali kita.

Untuk itu, adakah kita memikirkan siapa diri kita, hingga pilihan-pilihan yang kita ciptakan menggambarkan diri kita seutuhnya. Sang Pencipta begitu menyepesialkan kita. Maka sudah sepantasnya kita melakukan apa-apa yang menunjukkan bahwa kita memang special, dengan tidak memenuhi hari-hari kita dengan sesuatu yang sifatnya negatif. Apa pun itu termasuk sikap tidak menerima beban hidup ini, menyalahkan diri sendiri, atau menangisi masalah dengan keluhan secara berlebihan.
Insan-insan pengubah dunia adalah mereka yang bisa memetik pelajaran dari setiap kejadian. Mereka akan selalu belajar dari lingkungan yang positif. Menjadikan setiap kesempatan menjadi sesuatu yang penuh makna.
Hal yang paling penting bagi kita yang spesial ini adalah bertindak sebagai orang spesial dan tidak murahan. Yaitu dibuktikan pada perhatian kita dalam memandang hidup. Sudah saatnya kita menyingkirkan ’alasan’ yang menghambat untuk bertindak sekarang juga dalam memperbaiki hidup kita.

Bila kita menanam jagung, kita akan memetik jagung.
Bila kita menanam kebaikan, kita akan menuai keberuntungan.
Bila kita menanam keburukan, kita akan menuai kemalangan.
Bila kita menanam amal sholeh, kita akan mendapatkan surga.
Seperti apa jadinya kita di masa depan adalah hasil dari apa yang kita lakukan hari ini. Bila kita meremehkan hidup kita sekarang, kehidupan kita akan menjadi sulit nantinya. Jadi, mulai hari ini, berikanlah yang terbaik untuk hidup kita. Li ila kalimatillah..

-Crafty Rini Putri-

Phinisi, Inspire to Stand Up!


Belajar dari nol.
Belajar mengejar visi dengan mata yang lebih jernih.
Belajar meresapi angin, cahaya, dan langit yang indah.
Belajar tetap tegap tegar walau badai sekencang apa pun.
Belajar kokoh walau pasukan melemah.

Kita bukanlah Sang Nahkoda, percayalah sejatinya Nahkoda itu adalah Allah azza wa jalla..
Siapa pun yang Allah percaya untuk mengendarainya, kita memiliki peran yang tidak perlu dipandang hebat. Yang lebih penting adalah kita memiliki peran yang baik. It’s enough, isn’t it?

Kita ada untuk saling menguatkan, bukan?
Seperti kata Soron dalam Legend of Guardian, “Mengguatkan yang lemah..”
Itulah salah satu tugas kita.

Kita hanya perlu berfikir baik. Bila itu dipandang aneh, asing, dan terlalu idealis, bisikkan dalam hati, wakafa billaahi syahiida.. Toh, Allah yang melihat, bukan manusia.
Sampai kita bisa memastikan, kita telah ambil bagian dalam perjalanan panjang ini.
Layar telah membentang, angin pun semakin berderu, mungkin badai kan datang, lalu apakah kita akan tetap saling mengandalkan? Atau saling menyalahkan atas buruknya kinerja? Atau malah memilih berdiam diri karna perjuangan ini terlalu pahit dan menyesakkan?
Maka, bila kita telah merasa sadar, rasakanlah angin itu.. cahaya itu.. langit itu..
Orang-orang yang sadar, adalah yang menggunakan hidayahnya, akalnya, senjatanya, tangan dan kakinya. Dialah yang harus menjadi penggerak!

Tenang saja, kita memiliki dramaga untuk bertengger dan mengumpulkan amunisi yang hampir habis; dalam tafakkur kita, dalam sujud kita, dalam keheningan malam.. kepada Sang Maha saja kita bisa melepas kegersangan, bahkan kekerontangan..

Sejarah mengukir sebuah kapal nan anggun dan megah.
Phinisi.
Bahwa hanya dengan bersahabat dengan alam, kita mampu membebaskan alam.
Kita menatapnya, kita mengenalnya, kita menghargainya, kita meresapi dan menikmati setiap geraknya, kita memberinya perhatian lebih, kita mewarnainya dengan energi positif..
Bila Phinisi, anggun dan megah dalam sejarah,
Kita, anggun dan megah, bukan untuk sejarah, melainkan hanya karena Allah..!

Sampai fajar pun ramah menemani kita, menyambut kemilau sesungguhnya..

Ah, rasa-rasanya Khilafah kian dekat.
Dekat di hati, lekat dalam ingatan, dan sesaat lagi.

Tidakkah engkau merasakan kerinduan ini telah memuncak, Saudaraku?
Lalu mengapa tak Kau gadaikan seluruhnya untuk kemenengan dinn ini?

Syahdu, mengalir indah Al-imran : 159,
Fa idzaa azzamta, fatawakkal ‘alallah….

Allahua’lam.

Saudarimu, menunggumu, menyambutmu, dan selalu bersamamu dalam perjuangan ini, insyaAllah!
Crafty Rini Putri


on Tuesday, August 9, 2011 at 4:35pm

FERVEUR!



Ada tiga golongan manusia yang tidak akan ditanya di hari kiamat, yaitu; manusia yang mencabut selendang Allah. Sesungguhnya selendang Allah adalah kesombongan dan kainnya adalah al-izzah (keperkasaan); manusia yang meragukan perintah Allah; dan manusia yang putus harapan dari rahmat Allah.
[hr.ahmad, ath-thabrani, al-bazzar]

Ukhti, tawadhu'lah. Tundukkan setiap jengkal kelebihan dengan sikap ridha pada Allah. Ingatlah tentang sebuah hadits riwayat an-nasai dan abu dawud, bahwa sesungguhnya Allah tidak akan menerima amal kecuali amal yang dilaksanakan dengan ikhlas dan dilakukan karena mengharap ridha Allah semata.

Ukhti, bersegeralah. Tunaikan kewajiban-kewajibanmu. Sebelum datang masa tuamu, masa sempitmu, masa miskinmu, masa sakitmu, dan kematianmu. Lakukanlah saat ini juga, tanpa disuruh, tanpa mengeluh. Resapilah an-nisaa' ayat 65.

Ukhti, tetap tegarlah. Saat ini engkau belum menemui badai halilintar. Yang baru tampak di depan matamu adalah riak-riak kecil yang bisa engkau sapu dengan ketawakalanmu. Ingatlah ukhti, hidup dan perjuangan ini layaknya seleksi alam. Siapa saja yang kurang lurus niatnya, kurang ikhlas, tidak kuat, dan berharap pada selain Allah, maka ia akan terdampar, tersingkir dengan sendirinya tanpa permisi, seperti dedaunan lapuk yang menggugurkan dirinya sendiri.

Apakah kita masih mau melakukan yang kecil dan remeh temeh untuk hidup dan perjuangan ini??
Apakah kita akan terus meminta kasih sayang dan perhatian orang lain namun tak sedikit pun kita menebar kasih sayang di antara kita??
Apakah kita akan berteman dengan para pendosa, yang sehari-harinya tertawa, bahkan terbahak-bahak, padahal gunung dosa hampir menutupi wajahnya??
Apakah kita rela menjadi yang biasa-biasa saja, padahal energi yang membuncah dalam dada dapat meletus bak kilatan pedang yang menghunus kekufuran??
Apakah kita akan terlalu banyak bicara dan bertanya, namun NOL dalam tindakan??
Apakah kita akan terus ber'teori-teori, namun enggan dan sekedarnya saja dalam implementasi??
Apakah kita suka jadi pecundang daripada pemenang??
Apa yang engkau tunggu, saudariku....??
Mengapa tak kau genapkan ikhtiarmu, dengan kekuatan mabda'mu, dan sujudmu di sepanjang malam..?
For my team..FERVEUR..
Fajar ini, sedemikian indah untuk dilewatkan tanpa energi! Semangatlah menjemput ridhaNya!
Bergegaslah!
CARPE DIEM!!!

on Tuesday, October 18, 2011 at 12:15pm

inspirasi dari Al-fatih



salamun'alaikbimaashobartum.
ikhwahfillah,
tadi, saat nonton film sang penakluk konstantinopel, diri lemah ini semakin merasakan kelemahannya di hadapanNya..
Muhammad Al-Fatih II berjihad atas nama Allah, ia tidak pernah bosan mengingatkan pasukan terbaiknya dengan kalimat-kalimat penuh hikmah,
"Wahai pasukan terbaik! Jangan mulai langkahmu tanpa Dzikrullah, Bersabarlah dan Allah bersama kita! Siapkan diri kalian menjadi pilar2 Agama Allah!" 
Pasukan terbaik yang tak pernah lewat sekali pun shalat fardhu itu menjawab perintah Al-Fatih dengan tersenyum dan berkata,
"Tak ada pilihan lain, selain ta'at dan patuh."
Saat waktu bergulir, dan kemenangan pun belum berpihak pada kaum muslimin, Al-Fatih mengingatkan kembali pasukan terbaiknya,
"Musuh terbesar kita adalah dosa-dosa kita sendiri! Wahai pasukanku, yang aku takutkan adalah dosa-dosa kalian! Saudara-saudaraku, bertaubatlah kepada Allah. Allah pasti menolong Kita "
Begitulah Al-fatih membangkitkan pasukannya. Al-fatih juga menyemangati dirinya sendiri,
"Waktu belum berpihak pada kita, tapi aku tidak akan pernah membiarkan musuhku bernafas lega!"
Ikhwahfillah..
Kita, penerus risalah Muhammad SAW, para pembebas dengan cahaya Islam di tengah kegelapan,
yang tak lepas oleh khilaf karena kita hambaNya yang lemah, maka alangkah baiknya saling memaafkan atas kesalahpamahan yang pernah terjadi, lalu kita bertaubat bersama pada Dzat Yang Maha Pengampun.
Akhirnya, serupa dengan do'a Al-fatih,
"Ya Allah taklukkan Indonesia di tangan kami, kabulkanlah permohonan kami wahai Dzat Yang Maha Pemurah..."
saudarimu,
Crafty Rini Putri
Bogor, 5 Juni 2011

choose now

in the name of Allah..
to initiate an action, what we need? this is when we start out with one commitment. 
how strong intention to act now, that's what determines our lives. most people procrastinate their activities, they get lazy as the day is so long and there is plenty of time to rest at any time. procrastinators real action is on hold also his success by the Creator. we remember with paragraph 11 in the letter ar-ra'du in al-qur'anul kariim. "Allah will not change the fate of a people, before people are changing what is in themselves."
what we chose for this life? how our lives now? 
all we can choose. because life is a matter of choice. we can live with pleasure or enslaved by life.

for that, are there we think who we are, to the choices that we create ourselves fully describe the very special. The Creator is so especially us. then it is appropriate that we do nothing that indicates that we are special, by not fulfilling our days with things that are negative. whatever it includes attitudes do not accept the burden of this life, blame yourself, or cry over problems with excessive complaints.
modifier beings of the world are those who can draw a lesson from every incident. they will always learn from the positive environment.
make any occasion into something meaningful.

The most important thing for us this special person is acting as special and not cheap. that is evidenced in our attention in looking at life. it's time to get rid of 'reason' that, to act now, we need not worry anymore when we have been committed in our lives. later we will also feel the retribution for delays that we do once there are good intentions to act, or on the struggle of falling-down-build-build our lives in an effort to improve immediately.

when we plant corn we will reap corn. if we plant good we will reap a fortune. when we plant the ugliness we will reap misfortune. when we plant a pious charity we will get to heaven.
like what would happen in the future we are the result of what we do today. if we underestimate our lives now, we're going to be difficult life later. so, give the best after reading this suggestion.