Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan
Diposting oleh
crafty rini putri
komentar (0)
Bukan susah. Tapi kadang sulit sekali bagi beberapa orang untuk tersenyum. Tidak dipungkiri, hidup di zaman ini penuh dengan kemelut masalah. Wajar bila kemudian membuat wajah menjadi murung dan tampak sedih. Bagaimana tidak? Bila baru sejenak melangkahkan kaki keluar rumah saja sudah bisa menemui kemaksiatan di depan mata, misalnya dua anak muda yang mojok di pinggir jalan sedang pacaran. Bila bibir kelu untuk langsung menegur, maka wajah pun menjadi tertunduk, dan istighfar dalam hati. Bagus bila langsung bisa menegur bahwa perbuatan tersebut tidak layak dilakukan mereka, terutama bila mereka muslim. Karna sebaik-baik kita, bila ketika melihat kemungkaran, kita mampu mengubahnya dengan tangan, bila tak mampu kita mengubahnya dengan lisan, bila tak mampu juga, maka mengubahnya dengan hati, tapi yang terakhir ini adalah selemah-lemahnya iman seorang mukmin.
Ini baru satu alasan mengapa mudah sekali bagi kita untuk murung atau menampakkan wajah sedih. Belum lagi bila bangun tidur kita mengingat bagaimana kondisi saudara-saudara kita ummat Islam di Timur Tengah yang mungkin disaat kita tertidur, mereka tak mampu melekatkan matanya karena selalu dalam keadaan was-was bila ada bom nyasar, misalnya.
Selain itu, tumpukan permasalahan, baik seputar pribadi, keluarga, atau hubungan pertemanan dan persaudaraan, kadang juga membuat kita enggan dan mati rasa untuk tersenyum dengan setulusnya.
Baik, bila alasan untuk cemberut lebih banyak daripada untuk tersenyum, maka sebaiknya kita merenungkan kembali tuntunan dari pribadi paling mulia di dunia ini, Rasulullah. Abdullah bin al-Harits bin Jaz’in ra berkata, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang paling sering tersenyum selain Rasulullah.” (HR. Tirmidzi).
Rasulullah juga amat menyukai orang yang tersenyum, dan selalu mencontohkannya kepada siapapun. Dari Jarir bin Abdullah al-Bajali ra, ia berkata, “Rasulullah tidak pernah melihatku kecuali selalu menyertainya dengan senyuman.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Oleh karenanya, masalah boleh datang bertubi-tubi, namun wajah tak boleh mengikuti rumitnya masalah yang ada. Justru sebaiknya semakin kusut benang masalah yang kita hadapi, semakin kuatlah alasan kita untuk tersenyum. Bukankah semakin beratnya masalah atau ujian adalah pertanda semakin kuatnya agama seorang mukmin? Rasulullah bersabda, ”Manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi. Kemudian baru orang-orang yang lebih rendah derajatnya, berurutan secara bertingkat. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Jika ia kuat dalam agamanya, maka ujiannya akan sangat berat. Dan jika ia lemah agamanya, maka ia akan diuji Allah sesuai tingkat ketaatannya pada agamanya. Demikianlah bala’ dan ujian itu senantiasa dilimpahkan kepada seorang hamba sampai ia berjalan di muka bumi tanpa dosa apapun.” (HR. Tirmidzi).
Tersenyum, adalah tanda kebahagiaan seseorang. Semakin sering ia tersenyum, semakin indah wajahnya untuk dipandang. Pernah kita melihat senyum seoang bayi yang polos, tulus tanpa beban? Lucu sekali bukan? Sungguh mengenakkan melihat senyum seperti ini pada setiap saudara-saudara kita.
Dan jangan salah, senyum sedikit berbeda dengan tertawa. Karena banyak juga di antara kita yang menyatakan semakin banyak tertawa itu sebagai tanda semakin bahagianya seseorang. Tunggu dulu, jangan terlalu terburu-buru menyimpulkan. Mari kita lihat bagaimana petunjuk dari uswatun hasanah kita, Rasulullah. Jabir bin Samurah ra menyebutkan kuantitas tertawa Rasulullah sebagai berikut, “Sesungguhnya Rasulullah adalah orang yang banyak diam dan sangat jarang tertawa.” (HR. Ahmad).
Lalu bagaimana bentuk tertawanya Rasulullah? Siti Aisyah ra pernah berkata, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah tertawa hingga terlihat uvulan (bagian langit-langit yang menonjol ke bawah) dan aku hanya melihatnya tersenyum saja.” (HR. Bukhari).
Abdullah bin al-Harits bin Jaz’in juga pernah berkata, “Saat Rasulullah tertawa, beliau tidak pernah melakukannya kecuali hanya (sebatas) tersenyum.” (HR. Ahmad).
Seperti diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, jelas mengapa Rasul jarang sekali tertawa dikarenakan hal ini, “Dan sedikitlah tertawa, karena terlalu banyak tertawa dapat mematikan hati.” (HR. Tirmidzi)
Hal serupa juga disampaikan oleh Al-Mawardi rahimahullah, beliau berkata, “Sesungguhnya membiasakan diri dengan terlalu banyak tertawa dapat menyimpangkan dari perkara-perkara penting. Tertawa juga akan menghilangkan kesadaran akan bencana dan kedukaan. Orang yang melakukannya bukanlah orang yang mulia dan berwibawa dan juga bukan orang yang sadar akan bahaya serta kemuliaan diri.”
Dari sini, semakin jelas bagaimana cara paling baik kita menghiasi wajah kita. Ya, dengan tersenyum. Karena hati yang sakit akan menjadi sembuh dengan keindahan senyuman. Bukankah masih banyak masalah-masalah ummat yang membutuhkan tangan kita untuk menghilangkan segala kesedihan mereka? Dan bukankah penderitaan kaum muslim saat ini hampir-hampir memakan habis senyum mereka? Tak inginkah kita melihat senyum mereka kembali lagi merekah?
Maka, warnailah hidup kita, hiasilah perjuangan ini, dengan senyum keindahan yang mampu merengkuh banyak hati untuk kembali pada Syari’ah, yang mampu menyentuh setiap orang untuk mau berjuang bersama kita menegakkan kalimatullah di muka bumi ini, dengan tegaknya Khilafah ar-Rasyidah. Sekarang, mari kita periksa wajah kita masing-masing, masihkah ia digumuli oleh air muka kesedihan dan kemurungan? Selalu ingatlah kita pesan Nabi, dan selalu ingatlah kita pada ummat yang membutuhkan ketulusan kita. Jadikanlah agama ini sebagai rahmat bagi siapapun yang kita temui. Jangan sampai karna wajah kita yang kurang enak dipandang, orang lain jadi menjauh dari kita, tidak ingin mengenal Islam yang penuh rahmat. Na’udzubillah..
Walaupun terkesan remeh, tapi ini juga mempengaruhi kualitas hidup dan dakwah kita. Mari kita simak sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu dzar ra bahwa Rasulullah telah bersabda, “Jangan pernah meremehkan kebaikan, walaupun (hanya) bertemu dengan saudaramu dengan wajah yang berseri-seri.” (HR. Muslim).
Sesuatu bisa saja menjadi remeh hanya karena anggapan kita. Maka agar ia tak remeh, mulai sekarang marilah kita belajar untuk menghargai segala sesuatu, sekecil apapun itu. Termasuk membiasakan diri untuk tersenyum, menyambut setiap semakin beratnya ujian hidup dan perjuangan kita! Mari kita kembalikan senyum ummat kembali merekah menyongsong kehidupan damai bersama Syari’ah dan Khilafah. Wallahua’lam.
12 April 2012
Diposting oleh
crafty rini putri
komentar (0)
Inilah realita, banyak yang tidak sekolah!
Di tengah-tengah kota, apalagi di pelosok desa!
Berjuta anak Bangsa tak mampu terus sekolah!
Karna biayanya saja sudah semakin menggila, Hey!
Hey, Hey, Hey, Pendidikan!
Bukanlah perusahaan yang orientasinya uang, Hey!
Hey, Hey, Hey, Pendidikan!
Bukanlah formalitas yang penuh dengan kekosongan!
Katanya pendidikan harus semua orang!
Yang dilindungi dan dijamin oleh undang-undang!
Hey, Hey, mana buktinya, hanyalah sampah belaka!
Ternyata yang sekolah hanyalah yang berduit saja!
Pendidikan di sini tak pernah berubah!
Seperti di era jamannya penjajah!
Di mana rakyat jelata tak bisa sekolah!
Yang bisa hanyalah kelompok yang punya kuasa!
Yang bisa hanyalah kelompok yang berduit saja!
Hey, Hey, Pendidikan!
Begitulah secuplik lirik lagu yang kudengar di angkot tadi siang di perjalananku ke kampus. Sosok dekil itu adalah pengamen, ia menyebut dirinya sendiri sebagai seniman jalanan. Ini bukan kali pertama aku mendengarkan pengamen bernyanyi di angkot. Sering, sangking seringnya aku selalu siap untuk merekam suara pengamen-pengamen lewat HP. Tapi pengamen macam yang satu ini belum pernah kutemui sebelumnya. Ya, lirik lagunya. Kalau dosen, guru, mahasiswa, atau pelajar bicara pendidikan, tentu itu biasa. Tapi kalau yang bicara berasal dari kalangan kurang terpelajar, baru kali ini kudengar jeritannya.
”Permisi, Kak!” sapaan pengamen itu membuyarkan lamunanku. Segera kuambil uang ribuan dan kuberikan surat yang tadi sudah kusiapkan. Ia tersenyum tulus.
”Terimakasih, Kak! Mari, kak!” ucapnya lagi, berpamitan dengan lembut. Pemuda itu turun saat angkot berhenti di pertigaan jalan. Lalu angkot melesat lagi. Kulihat ia dari angkot, ia membaca tulisan di secarik kertas yang kuberi. Isinya,
” Selamat berjuang, Kawan! Sampai bertemu lagi...”
Pemuda itu melihat angkot yang semakin menjauh. Ia tersenyum haru.
**
Sampai di kampus, aku terus terbayang-bayang kejadian tadi siang. Itu hanya satu contoh jeritan-jeritan rakyat di kalangan bawah. Ah, aku masih jauh lebih beruntung. Walaupun aku bukan orang kaya, tapi aku tetap bisa sekolah tinggi. Teman-temanku di kampus, mereka mudah saja merogoh kantong untuk kebutuhan mereka, walaupun sebenarnya nggak butuh-butuh amat. Sepatu masih bagus, belum juga sampai sebulan dibeli, udah mau ganti yang baru. Belanja ke mall udah jadi agenda rutin tiap bulannya, yang nggak kurang dari lima ratus ribu! Huft! Aku sih, nggak separah mereka itu memang. Tapi, aku masih bisa makan, masih bisa beli buku kuliah, masih punya tempat tinggal, ngekos lagi! Dan semua itu kunikmati bukan dari kerja kerasku sendiri, tapi keringat orangtuaku! Aku disekolahkan tinggi oleh orangtuaku, tapi setiap bulan aku masih saja menengadahkan tangan untuk minta jatah bulanan. Tidak tanggung-tanggung, plus kadang-kadang aku masih menyakiti hatinya. Astaghfirullah...!
Sudah bertahun-tahun aku sekolah dari kecil hingga hampir memasuki kepala dua. Ya… sekitar 13 tahun. Tapi hasilnya? Aku masih belum bisa menjadi generasi cerdas, dewasa, dan memiliki keterampilan. Seperti yang tertuang dalam Undang-undang kependidikan negri ini. Terlalu banyak teorinya, jadi malas aku menghafalnya, nggak jelas sih…! Wajar saja kalau hasilnya ya begini-begini saja. Tak dapat diandalkan, tak dapat dibanggakan. Seperti teman-temanku! Dan aku?
Kuingat lagi pengamen tadi siang. Wajahnya memang pucat, karna debu, tapi ada keyakinan _iri dari wajahnya itu. Cara ia membawakan lagu dengan gitar juga enak didengar. Santai dan bersahaja. Tidak slenge’an. Usianya masih belasan tahun, pendek, kurus, hitam pula. Dari mana ya ia belajar bermain gitar dan menyanyi? Lirik lagu itu, diakah yang membuatnya? Atau siapa yang mengajarkannya? Ah, aku ingin bertemu lagi dengannya.
**
”Put!! Woy! Bengong aja, Lo!” Uci menepuk pundakku agak keras. Aku hanya tersenyum tipis.
“Kenapa sih, muka Lo ketekuk-ketekuk kayak baju belom disetrika ajah!” Aku tetap diam.
“Ih, kesambet ntar lho!” Ia menunjuk-nunjuk mukaku.
“Ci, Lo pernah nggak sih mikir, tentang udah berapa tahun kita belajar di sekolah… udah berapa banyak uang yang kita keluarkan? Salah, salah, bukan kita, tapi uang yang udah dikasih orangtua kita untuk biaya pendidikan kita? Gimana dengan mereka yang nggak punya duit tapi pengen sekolah?” kugoyang-goyangkan pundak Uci. Uci mengeleng.
“Emang penting gituh?”
“Ya ampun Uci…!” Mengapa teman-temanku tak berfikir seperti pengamen tadi siang ya? Padahal mereka kan dari bangku sekolah.

