Look Around





Terkadang yang kita rasakan dan lihat, tak semua bisa dihitung oleh nalar. Jangan selalu berfikir seperti rumus matematika.

Jangan berfikir, hidupmu akan slalu sesuai pikiranmu. Kamu akan menjadi dewasa ktika kamu berpijak di bumi tp matamu ke langit.

Egois itu penyakit. Kalau nyaman dengan sifat itu, lihatlah suatu hari akan ada masa egoismu memakan dirimu sendiri.[]Crafty Rini Putri

Party is Not Me, but I Love Me!


“Na, kapan sih aku bisa kayak kamu”
“Kayak aku?” Nana menggumam, dan melanjutkan,
“Apanya dari aku La? Aku cuma orang biasa ini. Aku tuh bawel, ceria, have fun, suka banget ngobrol apalagi sama orang yang baru kenal tuh hmmm asik dah. Trus apalagi. Aku cuma orang kayak biasa aja. Kan banyak orang kayak aku, La.” Ujar Nana berbalik menatap mata Lala yang berair.
“La… kamu kenapa?” Nana tiba-tiba duduk di depan Lala.
Lala menelungkup. Hening dengan isaknya. Nana bergeming.
##
Mentari tak lagi terik. Sinarnya temaram. Tenggelam di bawah relung-relung hati Lala.
Senja ini Lala berniat pergi ke suatu tempat. Tempat yang belum pernah dikunjunginya sebelum ini. Tempat yang, mungkin sangat berbeda dengan kepribadiannya.
Tatapan Lala kosong.
Dan. Chiiiiiiiiiiiiiit…… Tiiiiiiiiiiiiin…..
Lala membanting setir.
Kaku. Tangan Lala dingin.
Tok tok.
Lala menoleh.
“Hey, are youuu okay?”
Lala membuka kaca mobil.
“Mm maaf.” Hanya itu yang keluar dari bibir kecilnya.
Perempuan itu tersenyum simpul.
“Gapapa Dek. Kamu mau ke mana?”
Ia memakai syal, pakaiannya cozy. Lala tergerak keluar mobil.
“Maaf ya Kak..” ujarnya mulai sadar.
Dhuarrrrrr! Chiuuuuuuuuuu! Dhuaaaarrrr!!!
Tiba-tiba dibalik alun-alun kota riuh.
“Dek, ke sana yok!” Wanita itu mengambil motor maticnya, dan mengajakku santai.
“Orang ini baru kenal udah ngajak-ngajak aja. Ga pake marah-marah. Hmmmmh.” Batin Lala
“Ayo Dek… aku pengen jalan aja. Kalo kamu mau..” senyum simpulnya kembali menyeringai.
Lala menatap langit-langit.
Selangkah kaki mengikuti gerak wanita yang berumur namun muda.
“Namaku Nana.”
“Whats?!!”
“Iya namaku Nana. Aku fotografer Majalah.” Ulangnya. Lala merasakan kepalanya berat berputar. Ia mencari-cari memori di otaknya tentang seberapa banyak nama Nana bertengger. Lala senyum kecut.
“Kak, kenapa lo ngajak gue liat ginian? Kan kita baru kenal,” tanyaku akhirnya berani.
“Mmmm…. enggak ada apa-apa sih. Aku cuma suka aja. Dan yah mungkin aja kita bisa jalan bareng.” Ucapnya datar tanpa beban
“Tapi kan tadi gue dah bikin lo kaget di jalan…” Wanita itu tak menjawab selain senyum simpulnya.
“Kak, kenapa sih nama lo Nana?” Kalo ini ia bergidik. Merasa aneh ditanya.
“Emang kenapa?”
“Hmmmhf.” Lala hanya menghela nafasnya berat.
“Ada masalah?”
“Mmmm… gue… gue ngerasa trauma aja sama nama itu. Gue banyak kenal nama Nana. Yang gue tau, mereka selalu bikin gue illfeel.” Lala menghela nafasnya lagi.
“Kalo boleh tau kenapa illfeel Dek?”
“Hmmf. Ga tau Kak. Mereka selalu aja the best. Cantik, kaya, dan pinter. Banyak temen pula. Party sana party sini. Sedang gue?! Ish…” Lala sangat berekspresi.
“Yah, itu kan mereka Dek. Kenyataannya kamu kan nggak sama dengan mereka.” Lalu cemberut mendengar ungkapan jujur Nana.
“Kok Kaka gitu?!!” Lala melengos.
“Dek, kamu ya kamu. Ngapain harus jadi mereka yang….”
“Tapi mereka selalu jadi Ratu Party. Mereka selalu pamer ke gue! Mereka ngajak gue kembang api lah apa lah. Gue gak pernah bisa!” Kini Lala setengah teriak.
“Kenapa?”
“Ya karna gue trauma! Gue trauma pesta! Gue trauma kembang api! Gue trauma kongkow! Gue trauma semua!! Gue trauma!!!” Lala berapi-api, menyambar muka Nana.
“O..oke Dek. Kamu udah lebih dari lima kali bilang trauma. Apa yang bikin kamu trauma Dek. Its fine, you do what you want Dek.” Ujar Nana berusaha tenang.
“Tapi gue enggak!!! Gue ni anak kampung! Gue anak cupu! Gue cuma bisa dikerjain doang sama mereka!! Dan gue dipingit sepanjang hari!” Lala masih teriak
“Yang kamu maksud dengan mereka siapa? Nana? Ada berapa Nana?” Wanita itu tertegun.
Lala diam. Berfikir.
“Dek…?”
Lala menoleh.
“Apa dia cuma satu orang?”
Lala mengangguk.
“Kamu… bersahabat dengannya, dan kalian berbeda karakter. Dia lebih diterima oleh orang, dan kamu enggak. Begitu?”
Lala menunduk.
“Lihat langit itu Dek. Lihat di balik alun-alun ini. Pancaran kembang api ini cuma benda. Cuma barang. Dan party cuma kejadian. Sedangkan kamu, kamu punya segalanya.” Nana merangkul Lala.
“M..maksudnya?”
“Yes, just be you Dek. You are so beautyfull with yours. Just be the best in you.” Ucapnya tegas.
Lala menunduk. Dalam. Airmatanya jatuh. Ia mengangkat kepalanya perlahan. Menatap langit-langit yang indah. Terpejam.
Rangkulan Nana menambah kehangatan hatinya.
Matahari sudah padam.
Namun cahyanya kini ada di dada.
Menyibak mendung.
“Just be you. Becouse, you love yourself!” Kata-kata terakhirnya di malam itu.[]
Crafty Rini Putri
#OneWeekOnePaper

Cinta Saja Tak Cukup

Hidup ini selalu berbicara tentang pilihan. Tiap pilihan yang diambil adalah keputusan yang terbaik menurut kita.
Menikah dengan orang yang kita cintai atau tidak adalah pilihan. Namun, mencintai orang yang telah menikah dengan kita adalah keniscayaan.
Cinta, sering orang mengatakannya sebagai energi kehidupan. Jika tak ada cinta, hidup berlalu seperti air yang mengalir entah ke mana. Ibarat masakan tanpa garam. Hambar.
Karenanya, cinta sebagai asupan bagi tubuh kita jangan disepelekan. Tanamlah ia dengan akar yang kokoh. Iman. Hingga lesakannya mampu seimbangkan nada cinta. Semailah ia dengan buah yang ranum. Karakter. Hingga lezatnya dapat warnai cinta.
Milikilah iman dan karakter untuk mengiringi cinta yang suci. Yang indah dan mengindahkan. Yang membahagiakan dirinya dan diri orang yang dicintai.
Ini kunci sebuah pernikahan.
Cinta adalah energi. Namun tanpa iman, energi ini akan negatif, ibarat sampah yang kian membusuk. Jika tanpa karakter, cinta akan mati, dan keegoisan menjadi sebab kematiannya.
Cintailah suami dengan segenap kelebihan dan kekurangannya. Karena iman ini menuntun untuk mencinta sosok yang banting tulang menafkahi kita.
Cintailah ia dengan kelembutan sanubari.
Perangai kita adalah penyejuk bagi suami. 
Dan penyemai cintanya ada pada karakter kita yang sentiasa anggun bak permaisuri.
Membangun keluarga dengan cinta adalah sebuah keniscayaan. Adalah wajib menanamnya dengan iman kuat, dan menyemainya dengan karakter yang menentramkan.[]
Crafty Rini Putri
dalam Giveaway @supermom_w

Jangan Sombong! #YukMoveOn


Orang yang sombong, mungkin banyak temannya. Lantaran dia suka menunjukkan kemampuan dirinya. Tapi jangan salah...
Membanggakan diri sendiri, itu namanya UJUB.
Memamerkan keahlian sendiri, itu namanya RIYA.
Menceritakannya, itu namany SUM'AH.
Menggagungkan diri sampai lupa Allah, itu namanya TAKABBUR.
Kalau Sombong?
SOMBONG adalah... sikap tidak mau atau sulit menerima kebenaran dan meremehkan orang lain.
Nah, ini semua se anak turunan.
Why?
Karena Orang yang sulit menerima kebenaran, biasanya sulit dinasehati... Ngerasa bener terus... atau Ngerasa nggak rela jika disalahkan.
Ujung-ujungnya dia akan mudah sekali meremehkan orang lain.. Terutama jika orang tersebut nggak sependapat dengannya. Juga jika orang tersebut mengkritik dirinya.
Orang yang kaya gini, dia berfikir bahwa dirinya punya sesuatu yang Huebat. yang sehingganya nggak semua orang bisa dengan mudah menasehati dia. Inilah yang dinamakan Ujub...
Lantas, ketika dia selalu merasa bisa.. selalu merasa orang besar.. selalu merasa sebagai orang yang harus dihormati....
Saat itulah, ia mulai memamerkan kemampuannya kepada orang lain. Bisa dengan cara menunjuk dirinya sendiri atas jabatan, amanah, atau kesempatan emas tertentu.. Ini Riya..
Kalau sudah begini, biasanya ia juga akan mulai belajar untuk menceritakan pada orang lain tentang keutamaan-keutamaan dirinya (dibanding orang lain). Menceritakan bahwa dirinya bisa itu.. itu juga bisa.. nah yang itu jago.. itu apalagi.. begitu seterusnya. Di situlah ia menjadi Sum'ah.
Terakhir....
Saat ia sudah sampai di titik ini, sulit baginya untuk tidak Takabbur. Bahkan kadang, dia ngga merasa butuh Allah! Karena tanpaNya.. ia bisa melakukan sesuatu dengan beres... lancar, dan menyenangkan.
Dear...
Kadang, tanpa disadari ya.
Kita masuk dalam golongan orang sombong. Kita jadi bebal jika dikritik sama orang lain. Padahal? Apa salahnya mendengar masukan orang? Melukai hati kita? Come on.... Perasaan itu hanya hadir sebentar doang. Yang untung kita.
Orang lain; entah itu ortu, sahabat, pasangan hidup, atau bahkan guru kita, ketika mereka mengkritik kita, mereka Nggak Dapet Apa-apa!
Malah kadang mereka yang harus punya perasaan dongkol dulu... Gemes dulu... Kesel dulu... Marah dulu... atau bahkan benci dan dendam...
Itu semua perasaan-perasaan nggak enak yang udah mereka korbanin demi menasehati kita...
Sebagai orang yang dikritik, sudah sepantasnyalah kita Legowo...
Nggak perlu berfikir bahwa orang lain nggak mengerti kita. Orang lain bisanya nyari kesalahan kita.. Orang lain bisanya mengkritik, ngelakuin sendiri belum tentu bisa.
Hmm...
Dear,, apa kamu nggak merasa sakit dengan perasaan seperti itu??
Ayolah...
‪#‎MoveOn‬.
Dan tentu, jika kita menjadi orang yang gampang nerima kritik dari orang, bahkan berterimakasih.
Kita akan belajar untuk meminimalisir ke-UJUB-an diri. Karna kita telah bertransformasi menjadi orang yang senang belajar...
Orang yang suka belajar dan selalu bertumbuh, adalah orang yang senang mendengarkan orang lain. Baik itu pendapat yang sepakat, atau yang bertentangan.
Dengan begitu, ia akan berfikir bahwa dia punya kemampuan, tapi orang lain juga punya. Dia bisa mengerjakan sesuatu dalam bidang tertentu yang mungkin orang lain nggak bisa, tapi ada bidang lainnya yang dia sama sekali nggak ahli.
and next, dia pantang memamerkan keahliannya. Apalagi menceritakannya pada orang. Dia malu. smile emoticon
Makanya, dia nggak akan mungkin berani jadi orang yang takabbur. grin emoticon
So Dear....
Sahabatku yang sangat kucintai....
I Love You So So Much.
‪#‎YukBertumbuhBersama‬
heart emoticon
Yours,
Crafty Rp.

Percikan untuk Hati yang Tegar



Hati ini, mata ini, tangan ini, kaki ini
Janganlah engkau jadikan keras, hingga sulit memahami kebenaran.
Kadang niat baik, kau hentakkan dengan curiga
Awalnya manis, lalu beku.
Tak ada lagi itu kesejukan. tak ada lagi keramahan. tak ada kelembutan.
Samar!

Inginmu, inginku, ingin kita;
Menjemput mega di ufuk senja
Bariskan kepuitisan. atau kemunafikkan?
Tampaknya indah. padahal bangkai.

Kau menyeru dengan lantang.
Katamu itu idealisme
Namun saat kucoba berbagi rasa dan fikir, dalam sudut pandang yang lain,
Kau bilang aku picik. dan tersesat?
Lalu kau merasa benar. selalu benar.
Entah di mana itu kebenaran.

Batu tak lunak oleh batu.
Aku pun menjadi air, membersihkan, memulihkan.
Tapi kau buang aku ke comberan!
Aku beradu dengan limbah-limbah, sampah-sampah.

Setitik mentari adalah nafas bagiku.
Sayang, mentari justru temaram, lalu melarikan diri.

Sepertinya pekat makin gelap! Tapi masih berharap!
Ia ingin mengalilr… terus mengalir…
Ke muara yang tak lagi keruh
Kebeningan yang hangat
Memercik kembali energi, yang sempat hilang dimakan arus.

Hingga ayat terdengar syahdu,
Yaa… ayyatuhan nafsul muthmainnah..
Irj’I ilaa Rabbiki radhiyatan mardhiyah.
Fadkhuli fii ibadii… wadkhuli jannati…