Diposting oleh
crafty rini putri
komentar (0)
in the name of Allah..
to initiate an action, what we need? this is when we start out with one commitment. 
how
strong intention to act now, that's what determines our lives. most
people procrastinate their activities, they get lazy as the day is so
long and there is plenty of time to rest at any time. procrastinators
real action is on hold also his success by the Creator. we remember
with paragraph 11 in the letter ar-ra'du in al-qur'anul kariim. "Allah
will not change the fate of a people, before people are changing what
is in themselves."
what we chose for this life? how our lives now?
all we can choose. because life is a matter of choice. we can live with pleasure or enslaved by life.
for
that, are there we think who we are, to the choices that we create
ourselves fully describe the very special. The Creator is so especially
us. then it is appropriate that we do nothing that indicates that we
are special, by not fulfilling our days with things that are
negative. whatever it includes attitudes do not accept the burden of
this life, blame yourself, or cry over problems with excessive
complaints.
modifier
beings of the world are those who can draw a lesson from every
incident. they will always learn from the positive environment.
make any occasion into something meaningful.
The
most important thing for us this special person is acting as special
and not cheap. that is evidenced in our attention in looking at
life. it's time to get rid of 'reason' that, to act now, we need not
worry anymore when we have been committed in our lives. later we will
also feel the retribution for delays that we do once there are good
intentions to act, or on the struggle of falling-down-build-build our
lives in an effort to improve immediately.
when
we plant corn we will reap corn. if we plant good we will reap a
fortune. when we plant the ugliness we will reap misfortune. when we
plant a pious charity we will get to heaven.
like
what would happen in the future we are the result of what we do
today. if we underestimate our lives now, we're going to be difficult
life later. so, give the best after reading this suggestion. 
Diposting oleh
crafty rini putri
komentar (0)
Inilah realita, banyak yang tidak sekolah!
Di tengah-tengah kota, apalagi di pelosok desa!
Berjuta anak Bangsa tak mampu terus sekolah!
Karna biayanya saja sudah semakin menggila, Hey!
Hey, Hey, Hey, Pendidikan!
Bukanlah perusahaan yang orientasinya uang, Hey!
Hey, Hey, Hey, Pendidikan!
Bukanlah formalitas yang penuh dengan kekosongan!
Katanya pendidikan harus semua orang!
Yang dilindungi dan dijamin oleh undang-undang!
Hey, Hey, mana buktinya, hanyalah sampah belaka!
Ternyata yang sekolah hanyalah yang berduit saja!
Pendidikan di sini tak pernah berubah!
Seperti di era jamannya penjajah!
Di mana rakyat jelata tak bisa sekolah!
Yang bisa hanyalah kelompok yang punya kuasa!
Yang bisa hanyalah kelompok yang berduit saja!
Hey, Hey, Pendidikan!
Begitulah secuplik lirik lagu yang kudengar di angkot tadi siang di perjalananku ke kampus. Sosok dekil itu adalah pengamen, ia menyebut dirinya sendiri sebagai seniman jalanan. Ini bukan kali pertama aku mendengarkan pengamen bernyanyi di angkot. Sering, sangking seringnya aku selalu siap untuk merekam suara pengamen-pengamen lewat HP. Tapi pengamen macam yang satu ini belum pernah kutemui sebelumnya. Ya, lirik lagunya. Kalau dosen, guru, mahasiswa, atau pelajar bicara pendidikan, tentu itu biasa. Tapi kalau yang bicara berasal dari kalangan kurang terpelajar, baru kali ini kudengar jeritannya.
”Permisi, Kak!” sapaan pengamen itu membuyarkan lamunanku. Segera kuambil uang ribuan dan kuberikan surat yang tadi sudah kusiapkan. Ia tersenyum tulus.
”Terimakasih, Kak! Mari, kak!” ucapnya lagi, berpamitan dengan lembut. Pemuda itu turun saat angkot berhenti di pertigaan jalan. Lalu angkot melesat lagi. Kulihat ia dari angkot, ia membaca tulisan di secarik kertas yang kuberi. Isinya,
” Selamat berjuang, Kawan! Sampai bertemu lagi...”
Pemuda itu melihat angkot yang semakin menjauh. Ia tersenyum haru.
**
Sampai di kampus, aku terus terbayang-bayang kejadian tadi siang. Itu hanya satu contoh jeritan-jeritan rakyat di kalangan bawah. Ah, aku masih jauh lebih beruntung. Walaupun aku bukan orang kaya, tapi aku tetap bisa sekolah tinggi. Teman-temanku di kampus, mereka mudah saja merogoh kantong untuk kebutuhan mereka, walaupun sebenarnya nggak butuh-butuh amat. Sepatu masih bagus, belum juga sampai sebulan dibeli, udah mau ganti yang baru. Belanja ke mall udah jadi agenda rutin tiap bulannya, yang nggak kurang dari lima ratus ribu! Huft! Aku sih, nggak separah mereka itu memang. Tapi, aku masih bisa makan, masih bisa beli buku kuliah, masih punya tempat tinggal, ngekos lagi! Dan semua itu kunikmati bukan dari kerja kerasku sendiri, tapi keringat orangtuaku! Aku disekolahkan tinggi oleh orangtuaku, tapi setiap bulan aku masih saja menengadahkan tangan untuk minta jatah bulanan. Tidak tanggung-tanggung, plus kadang-kadang aku masih menyakiti hatinya. Astaghfirullah...!
Sudah bertahun-tahun aku sekolah dari kecil hingga hampir memasuki kepala dua. Ya… sekitar 13 tahun. Tapi hasilnya? Aku masih belum bisa menjadi generasi cerdas, dewasa, dan memiliki keterampilan. Seperti yang tertuang dalam Undang-undang kependidikan negri ini. Terlalu banyak teorinya, jadi malas aku menghafalnya, nggak jelas sih…! Wajar saja kalau hasilnya ya begini-begini saja. Tak dapat diandalkan, tak dapat dibanggakan. Seperti teman-temanku! Dan aku?
Kuingat lagi pengamen tadi siang. Wajahnya memang pucat, karna debu, tapi ada keyakinan _iri dari wajahnya itu. Cara ia membawakan lagu dengan gitar juga enak didengar. Santai dan bersahaja. Tidak slenge’an. Usianya masih belasan tahun, pendek, kurus, hitam pula. Dari mana ya ia belajar bermain gitar dan menyanyi? Lirik lagu itu, diakah yang membuatnya? Atau siapa yang mengajarkannya? Ah, aku ingin bertemu lagi dengannya.
**
”Put!! Woy! Bengong aja, Lo!” Uci menepuk pundakku agak keras. Aku hanya tersenyum tipis.
“Kenapa sih, muka Lo ketekuk-ketekuk kayak baju belom disetrika ajah!” Aku tetap diam.
“Ih, kesambet ntar lho!” Ia menunjuk-nunjuk mukaku.
“Ci, Lo pernah nggak sih mikir, tentang udah berapa tahun kita belajar di sekolah… udah berapa banyak uang yang kita keluarkan? Salah, salah, bukan kita, tapi uang yang udah dikasih orangtua kita untuk biaya pendidikan kita? Gimana dengan mereka yang nggak punya duit tapi pengen sekolah?” kugoyang-goyangkan pundak Uci. Uci mengeleng.
“Emang penting gituh?”
“Ya ampun Uci…!” Mengapa teman-temanku tak berfikir seperti pengamen tadi siang ya? Padahal mereka kan dari bangku sekolah.
Diposting oleh
crafty rini putri
komentar (0)
Dalam relung yang terguncang..
Hari-hari ini begitu melankolis
Muak dengan kehidupan kapitalis!
Muak dengan kemunafikkan dunia!
Ada antrian panjang di busway
yang mengundang suara keras memekakkan
Ada para pendidik yang mengajar demi uang, demi uang!
mengorbankan pelajar dalam kesakitan, walau untuk kata sekulerisasi!
Ada pejabat negeri yang sarat kepentingan
menyusun program hanya untuk turunnya tender, lagi-lagi uang!
Di samping jutaan rakyat, yang untuk makan saja, ia mengais sampah
Kemewahan versus kemelaratan.
Ironi yang tak terkikis oleh waktu..
Lalu para ayah pulang kerja membawa kepenatan
Isteri yang menyibuki diri dengan rumpian ala silet
Anak-anak pun merengek meminta jajan, meminta dibelikan hp, ipod, laptop.
Rumah bumerang, di luar pun perang.
Kapankah kenistaan ini terhenti..
oleh sebuah kalimat tinggi
dengan kata perjuangan suci
lewat tangan-tangan yang mampu memikulnya dengan erat
layaknya bara api yang digenggam.
panas! dan membakar!!
Ia terbang di atas kubangan lumpur
Kemilau cahaya dalam kegelapan
Bukan untuk pelejitan aktualisasi diri
Atau retorika basi
Ia bergerak, di depan,
Mengambil bagian dalam perubahan
dengan lantang tegar berdiri, menghalau segala kerusakan
berteriak TAKBIR!!!
4 Februari 2012
Hari-hari ini begitu melankolis
Muak dengan kehidupan kapitalis!
Muak dengan kemunafikkan dunia!
Ada antrian panjang di busway
yang mengundang suara keras memekakkan
Ada para pendidik yang mengajar demi uang, demi uang!
mengorbankan pelajar dalam kesakitan, walau untuk kata sekulerisasi!
Ada pejabat negeri yang sarat kepentingan
menyusun program hanya untuk turunnya tender, lagi-lagi uang!
Di samping jutaan rakyat, yang untuk makan saja, ia mengais sampah
Kemewahan versus kemelaratan.
Ironi yang tak terkikis oleh waktu..
Lalu para ayah pulang kerja membawa kepenatan
Isteri yang menyibuki diri dengan rumpian ala silet
Anak-anak pun merengek meminta jajan, meminta dibelikan hp, ipod, laptop.
Rumah bumerang, di luar pun perang.
Kapankah kenistaan ini terhenti..
oleh sebuah kalimat tinggi
dengan kata perjuangan suci
lewat tangan-tangan yang mampu memikulnya dengan erat
layaknya bara api yang digenggam.
panas! dan membakar!!
Ia terbang di atas kubangan lumpur
Kemilau cahaya dalam kegelapan
Bukan untuk pelejitan aktualisasi diri
Atau retorika basi
Ia bergerak, di depan,
Mengambil bagian dalam perubahan
dengan lantang tegar berdiri, menghalau segala kerusakan
berteriak TAKBIR!!!
4 Februari 2012
Diposting oleh
crafty rini putri
komentar (0)
Riuh. Sendu.
Bahagia yang musnah.
Senja yang berselimut temaram.
Membawa luka dan duka.
Hingga perih lalu merintih.
Cakrawala membentuk mega. Awan bergantian.
Makhluk kecil yang bertengger pun pergi. Menghilang.
Mencari perlindungan.
Namun langit kian pekat. Tak tersisa satu bintang.
Guntur bersautan. Memecah keheningan tiap rumah.
Di balik jendela, petir bergilir, tajam.
Ini nyanyian, pilu yang berbungkus muakan.
Semesta nan indah. Menjadi gundah.
Kuku-kuku retak. Tak bertuan.
Kicauan yang dulu nyaring.
Semerbak dengan wangi mawar yang menghias taman.
Lambaian dedaun dalam rindangnya kebun.
Ladang yang subur.
Sirna. Seketika.
Oleh apa saja, berbalut nafsu. Bercampur amarah.
Dan aku...
Berhembus di sudut desa yang kini gersang.
Berdo’a dalam diam. Menyatu dengan riuh-sendunya.
Menyapu kepingan-kepingan yang kelak terselamatkan.
Buitenzorg, 28 Ramadhan 1432 H / 28 Agustus 2011
Di bawah pohon rindang. Di depan rumahku.
Bahagia yang musnah.
Senja yang berselimut temaram.
Membawa luka dan duka.
Hingga perih lalu merintih.
Cakrawala membentuk mega. Awan bergantian.
Makhluk kecil yang bertengger pun pergi. Menghilang.
Mencari perlindungan.
Namun langit kian pekat. Tak tersisa satu bintang.
Guntur bersautan. Memecah keheningan tiap rumah.
Di balik jendela, petir bergilir, tajam.
Ini nyanyian, pilu yang berbungkus muakan.
Semesta nan indah. Menjadi gundah.
Kuku-kuku retak. Tak bertuan.
Kicauan yang dulu nyaring.
Semerbak dengan wangi mawar yang menghias taman.
Lambaian dedaun dalam rindangnya kebun.
Ladang yang subur.
Sirna. Seketika.
Oleh apa saja, berbalut nafsu. Bercampur amarah.
Dan aku...
Berhembus di sudut desa yang kini gersang.
Berdo’a dalam diam. Menyatu dengan riuh-sendunya.
Menyapu kepingan-kepingan yang kelak terselamatkan.
Buitenzorg, 28 Ramadhan 1432 H / 28 Agustus 2011
Di bawah pohon rindang. Di depan rumahku.
Diposting oleh
crafty rini putri
komentar (0)
lembutkanlah hati saudariku, Rabb..
temanilah hari-harinya dengan ilmu..
hiasi dengan ayat-ayat suci..
jangan izinkan ia berbuat maksiat..
jangan izinkan ia mengeluh..
saat ia sedang sedih, buatlah ia tersenyum oleh nikmatMu yang tak terbatas..
saat ia sedang berbahagia, jagalah hatinya agar tetap selalu terpaut padaMu..
bila diri lemah nan fakir ini berbuat salah padanya, beri waktu untuk memohon maaf padanya, dan sampaikan senandung cinta dari bilik hati ini..
Rabbi.. Engkau Sang Maha Pembolak-balik hati..
bukakanlah pintu hidayah untuknya..
lapangkanlah dadanya..hingga ia ikhlas, sabar, dan tetap bersyukur dalam kondisi apapun..
Label:
do'a

